Lagu Olle Ollang ini adalah salah satu lagu yang terkenal dari Madura. Konon bercerita tentang seorang istri yang menunggu suaminya datang berlayar. Tentu saja setiap pendengar mempunyai interpretasi sendiri. Saya sendiri berpendapat bahwa lagu ini bercerita tentang dua sejoli yang telah lama berpisah akan segera bertemu kembali. Lirik lagu ini berisi 4 bait pantun. Tiap bait berisi empat baris. Baris 1,2 berupa lampiran sedangkan baris 3,4 adalah isi.
Bait pertama bercerita tentang perahu yang akan berlayar pulang ke Pulau Madura. Ketika layar dibentangkan, kapalpun siap menyeberangi selat Madura. Perahupun disambut riang semilir angin laut yang menyejukkan. Bait ini menggambarkan betapa senangnya hati sang pria yang akan segera menjumpai kekasih hatinya nun jauh di pulau seberang.
Pada bait kedua perahu sampai di tujuan. Setelah perahu berlayar jauh meninggalkan Surabaya, sang nahkoda memusatkan arah ke timur laut. Ditengah hempasan gelombang tinggi air laut selama pelayaran, akhirnya mereka sampai di pesisir pulau Arosbaya.
Bait ketiga menyuarakan kerinduan sang wanita pujaan hati. Ia merasa tak kuat lagi menahan rindu. Ia pernah mencoba mencari pengganti, tapi tak ada satupun pria yang sepadan dengannya.
Bait keempat sang priapun mengatakan hal yang sama. Cintanya terlalu besar hingga ia tak kuat lagi menanggunggnya. Selama kurun waktu pelayaran, yang melingkupi pikirannya hanyalah banyangan kekasihnya seorang.
Dari lirik ini bisa dipastikan bahwa sang nelayan berasal dari Arosbaya, bagian barat laut pulau Madura. Penduduk di pesisir pantai Arosbaya sampai sekarangpun masih banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Hal yang unik dari lirik lagu ini adalah ketika pencipta lagu menggunakan lampiran "mon amena sere se nalar" dan "ghambirrah ma' ghambir jaba". Saya tidak mengerti mengapa kalau bersirih harus menggunakan "sere se nalar" dan ada apa dengan gambir dari Jawa. Apakah "sere se nalar" memberikan rasa yang lebih nikmat sedangkan gambir dari Jawa rasanya berbeda dengan gambir yang lain dan cenderung memberi rasa yang 'kurang mantap'? Rasanya saya harus bertanya pada orang madura yang suka bersirih. Hmmm jadi teringat nenek. Semoga beliau diberi kelapangan di alam kubur sana..
Lalu penggunaan "mon olarra olar alengker" dan "lajing daun ma' nyenga' dai". Dalam mitos Madura, biasanya berkaitan dengan mimpi, ular adalah simbol dari jodoh dan ular yang melingkar adalah kedatangan jodoh yang takkan lama lagi atau sudah pasti. Sedangkan penggunaan ular hijau, sebagai salah satu ular yang berbisa, yang telah mematuk dahi sang pria menggambarkan bahwa cinta sang wanita telah menguasai pikirannya. Dibawah ini adalah lirik lagu Olle Ollang dan terjemahannya.
Olle ollang paraona alajara (Mendapati arah perahunya akan segera berlayar)
Olle ollang alajara ka madura (Mendapati arah berlayar ke pulau Madura)
Olle ollang mon lajar pon ebhabbharra (Mendapati arah ketika layar akan segera dibentangkan)
Olle ollang ngalesser angen saghara (Mendapati arah terasa semilirnya angin laut)
Olle ollang pon jau dari sorbaja (Mendapati arah telah jauh meninggalkan Surabaya)
Olle ollang aghuwar ka temor daja (Mendapati arah melaju ke timurlaut)
Olle ollang ngajerning aeng pon raja (Mendapati arah gelombang airpun kian tinggi)
Olle ollang epengghir sereng ros baja (Mendapati arah di pesisir laut Arosbaya)
Adhu yalle' mon amena sere se nalar (aduh adik, kalau bersirih dengan sirih yang merambat)
Du adhu yalle' ghambirrah ma' ghambir jaba (aduh aduh adik, gambirnya kok gambir dari jawa)
Adu yalle' ethina rassa tak kellar (Aduh adik, saya merasa tidak kuat)
Du adhu yalle' ebhandhing tak nemo pada (Aduh aduh adik, tidak ada yang sebanding denganmu)
Reff:
Adu yalle' mon olarra olar alengker (Aduh adik, ularnya itu ular yang melingkar)
Du adhu yalle' Lajing daun ma' nyenga' dai (aduh aduh adik, ular hijau ternyata mematuk dahi)
Adhu yalle' Mon tak kellar bula se neser (Aduh adik, sudah tak kuat aku menahan cinta)
Du adhu yalle' Jagha tedung ma' enga' bhai (aduh adik, bangun tidur masih saja terkenang)
Senin, 23 Juni 2014
Minggu, 22 Juni 2014
Abâ' ̣1
Rasana pekeran cek sompeké. Tadâ’ ombé tadâ’ angin, kabedeen
sossa malolo. Manabih eker-pekker arapa’a abâ' panekah lô’ bisa tenang. Odi’ la nyaman.
Pesse, Alhamdulillah, cokop. Kabedeen sehat. Tadâ’
kakorangan pan-panapan. Melana kadi paneka, aherra den
kaula nyimpolagih masalah paneka tombu polanah abek jeu dhari Pangeran. Até paneka liâ’, kabenya’an dusâ.
Senin, 16 Juni 2014
Bhâbhâsan rè-saarè
Mara aèng ebâdְdhâi kèrèng artinya seperti air diwadahi keranjang ikan yaitu harta yang cepat habis.
Rabu, 11 Juni 2014
McFly-Not alone (tidak sendirian)
McFly
"Not Alone-Tidak Sendirian"
But I'm not alone, no, no, no
"Not Alone-Tidak Sendirian"
Life is getting harder day by day
Hari demi hari hidup ini semakin sulit
And I don't know what to do, what to say
And I don't know what to do, what to say
Dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu apa yang harus katakan
And my mind is growing weak every step I take
And my mind is growing weak every step I take
Dan ingatanku melemah setiap kali aku melangkahkan kaki
It's uncontrollable. Now they think I'm fake, yeah
It's uncontrollable. Now they think I'm fake, yeah
Sungguh tidak terkontrol. Sekarang mereka menganggapku penipu, yeah
Coz I'm not alone, no, no, no
Coz I'm not alone, no, no, no
Karena aku tidak sendirian, tidak, tidak, tidak
But I'm not alone, no, no, no
But I'm not alone, no, no, no
Tapi aku tidak sendirian, tidak, tidak , tidak
I'm not alone,
I'm not alone,
Aku tidak sendirian,
And I, I get on the train on my own
And I, I get on the train on my own
Dan aku, aku naik kereta seorang diri
And my tired radio keeps playing tired songs
And my tired radio keeps playing tired songs
Dan radioku yang kelelahan terus memainkan lagu-lagu yang membosankan
And I know that there's not long to go
And I know that there's not long to go
Dan aku tahu bahwa perjalanan ini tidak akan berlangsung lama
Oh, and all I wanna do Is just go home
Oh, dan yang paling ingin aku lakukan hanya pulang (ke rumah)
yeah, yeah
Coz I'm not alone, no, no, no
Oh, and all I wanna do Is just go home
Oh, dan yang paling ingin aku lakukan hanya pulang (ke rumah)
yeah, yeah
Coz I'm not alone, no, no, no
Karena aku tidak sendiri, tidak, tidak, tidak
But I'm not alone, no, no, no
Tapi aku tidak sendiri, tidak, tidak, tidak
I'm not alone,
I'm not alone,
Aku tidak sendiri,
People rip me for the clothes I wear
People rip me for the clothes I wear
Orang-orang menjauhiku karena pakaian yang aku kenakan
Every day just seems to be the same
Every day just seems to be the same
Rasanya tiap hari sama saja
They just swear
Mereka hanya berani bersumpah
They just swear
Mereka hanya berani bersumpah
They just don't care [x3]
Mereka tidak pernah peduli
Coz I'm not alone, no, no, no
But I'm not alone, no, no, no
Na na na na's
Coz I'm not alone, no, no, no
La la la la, yeah, yeah. I'm not alone,
Coz I'm not alone, no, no, no
But I'm not alone, no, no, no
Na na na na's
Coz I'm not alone, no, no, no
La la la la, yeah, yeah. I'm not alone,
Bhâbhâsan rè-saarè
Mara aèng è daunna tales artinya‘ibarat air di daun keladi’ yaitu orang yang tidak bisa dinasehati.
Selasa, 10 Juni 2014
Bhâbhâsan rè-saarè
Aèng sondhâng nanְdhâaghi dâlemma lèmbung artinya ‘air mengalir balik menandakan dalamnya lubuk’: orang berilmu biasanya tidak banyak bicara.
Senin, 09 Juni 2014
Bhâbhâsan rè-saarè
Aèng èpeddhâng ta’ apèsa artinya ‘air ditetak pedang tidak terpisah’: hubungan keluarga yang sangat erat sehingga tidak terganggu dengan masalah dari luar.
Minggu, 08 Juni 2014
Bhâbhâsan rè-saarè
Aèng èpaghili ècello’ artinya ‘air dialirkan diciduk’ meminta sesuatu sedangkan yang diminta tersebut sangat dibutuhkan oleh orang yang diminta tersebut.
Minggu, 01 Juni 2014
Kaluwang Terro Dhurin
Kaluwang terro
dhurin, peribahasa dari Madura
ini mengingatku pada diriku sendiri. Ada mimpi yang telah bertahun-tahun
lamanya kupendam, namun saat ada kesempatan untuk mewujudkannya aku terpaksa menyia-nyiakannya.
Sevilla FC datang ke
Indonesia pada tanggal 20 Mei 2014 lalu. Mereka datang
dengan 19 pemain, diantaranya Reyes, Trochowski, Coke,
dan Navarro. Jesus Navas memang tidak ada diantara mereka, tetapi kehadiran
beberapa pemain yang sudah kusebutkan beserta pelatih besar Unay Emery mampu
mengisi kekosongannya. Biarlah kepergian Navas ke Manchester City sebagai
bagian dari sejarah. Tak perlu disesali.
Aku masih mencintai
Sevilla dan menganggap diriku sebagai Sevillistas, Sevillistas Indonesia
pastinya. Itu yang kuyakini meskipun aku akui jarang sekali menonton
pertandingan Sevilla di musim 2013/2014 karena jarang ditayangkan di televisi
swasta. Sebenarnya ini bukan suatu alasan, karena masih ada banyak cara untuk
menonton pertandingan mereka. Yah, begitulah.. Ibarat mèghâ’ jhuko’ ta’ buddhâgghâ cellot.
Kedatangan Sevilla FC
ke Indonesia adalah salah satu mimpiku yang menjadi kenyataan. Dulu aku
menganggap itu tidak mungkin terjadi, karena beberapa sponsor pastinya lebih memilih
klub-klub elit Eropa. Ketika pertengahan maret aku
mendapat kabar Sevilla FC akan bertanding dengan Persipasi pada tanggal 25 mei, aku meragukan
kepastiannya. Walaupun begitu aku tetap
menyusun rencanaku menonton pertandingan mereka, termasuk mengecek jadwal dan
harga tiket pesawat dan KA. Aku memberitahu kakakku tentang rencana itu,
sayangnya responnya menyakitkan sekali. Aku tidak boleh pergi ke Bekasi. Aku hanya
bisa mendesah. Kesedihanku semakin menguap ketika sebulan setelahnya seorang teman mengatakan Persipasi digosipkan bubar.
Bulan berganti,
menginjak minggu kedua di bulan Mei kabar kedatangan Sevilla FC berhembus lagi.
Kali ini mereka diberitakan akan bertanding dengan PBR. Aku yang tidak
mendapatkan restu dari orang tua untuk bepergian
ke luar kota, hanya bisa berdoa semoga kali bukan sekedar kabar burung lagi. Alhamdulillah, pada hari rabu (21/5) semua rombongan pemain Sevilla FC benar-benar
menginjakkan kaki di tanah airku tercinta Indonesia.
Seharian aku merasa kacau. Perasaan bahagia atas kedatangan klub yang
kucintai lebur bersama penyesalan karena tidak bisa menonton langsung
pertandingan mereka. Aku menyadari ini adalah kesempatan langka. Mungkin ini
kesempatan satu-satunya yang kumiliki untuk bertemu langsung dengan para
idolaku. Aku mengutuk diriku sendiri. Harusnya aku nekat pergi ke Bandung, tak
peduli dapat ijin atau tidak. Argh. Apa boleh buat. Aku seorang pengecut. Dan inilah
hukuman bagi seorang pengecut seperti aku. Ketika teman-temanku dari
Sevillistas Indonesia bersorak-sorai menyanyikan himne kebanggaan kami di Stadion
Si Jalak Harupat Bandung, aku menangis sesenggukan di depan televisi kosan. Andai
saja… Andai saja waktu bisa.. Oh, sudahlah.
Momen tanggal 22 Mei itu mengingatkanku pada beberapa peribahasa Madura
lainnya mara cacèng nglodu’â
komèrè, mara
cabhul è jhurâng ajhângoa langngè’,
kaluwang terro dhurin, ajâm tokong mènta
monteng perib, karena kenyataannya pangara
bâdâ, pangaro tadâ’.
Langganan:
Postingan (Atom)