Minggu, 01 Juni 2014

Kaluwang Terro Dhurin



Kaluwang terro dhurin, peribahasa dari Madura ini mengingatku pada diriku sendiri. Ada mimpi yang telah bertahun-tahun lamanya kupendam, namun saat ada kesempatan untuk mewujudkannya aku terpaksa menyia-nyiakannya.
Sevilla FC datang ke Indonesia pada tanggal 20 Mei 2014 lalu. Mereka datang dengan 19 pemain, diantaranya Reyes, Trochowski, Coke, dan Navarro. Jesus Navas memang tidak ada diantara mereka, tetapi kehadiran beberapa pemain yang sudah kusebutkan beserta pelatih besar Unay Emery mampu mengisi kekosongannya. Biarlah kepergian Navas ke Manchester City sebagai bagian dari sejarah. Tak perlu disesali.
Aku masih mencintai Sevilla dan menganggap diriku sebagai Sevillistas, Sevillistas Indonesia pastinya. Itu yang kuyakini meskipun aku akui jarang sekali menonton pertandingan Sevilla di musim 2013/2014 karena jarang ditayangkan di televisi swasta. Sebenarnya ini bukan suatu alasan, karena masih ada banyak cara untuk menonton pertandingan mereka. Yah, begitulah.. Ibarat mèghâ’ jhuko’ ta’ buddhâgghâ cellot.
Kedatangan Sevilla FC ke Indonesia adalah salah satu mimpiku yang menjadi kenyataan. Dulu aku menganggap itu tidak mungkin terjadi, karena beberapa sponsor pastinya lebih memilih klub-klub elit Eropa. Ketika pertengahan maret aku mendapat kabar Sevilla FC akan bertanding dengan Persipasi pada tanggal 25 mei, aku meragukan kepastiannya. Walaupun begitu aku tetap menyusun rencanaku menonton pertandingan mereka, termasuk mengecek jadwal dan harga tiket pesawat dan KA. Aku memberitahu kakakku tentang rencana itu, sayangnya responnya menyakitkan sekali. Aku tidak boleh pergi ke Bekasi. Aku hanya bisa mendesah. Kesedihanku semakin menguap ketika sebulan setelahnya seorang teman mengatakan Persipasi digosipkan bubar.
Bulan berganti, menginjak minggu kedua di bulan Mei kabar kedatangan Sevilla FC berhembus lagi. Kali ini mereka diberitakan akan bertanding dengan PBR. Aku yang tidak mendapatkan restu dari orang tua untuk bepergian ke luar kota, hanya bisa berdoa semoga kali bukan sekedar kabar burung lagi. Alhamdulillah, pada hari rabu (21/5) semua rombongan pemain Sevilla FC benar-benar menginjakkan kaki di tanah airku tercinta Indonesia.
Seharian aku merasa kacau. Perasaan bahagia atas kedatangan klub yang kucintai lebur bersama penyesalan karena tidak bisa menonton langsung pertandingan mereka. Aku menyadari ini adalah kesempatan langka. Mungkin ini kesempatan satu-satunya yang kumiliki untuk bertemu langsung dengan para idolaku. Aku mengutuk diriku sendiri. Harusnya aku nekat pergi ke Bandung, tak peduli dapat ijin atau tidak. Argh. Apa boleh buat. Aku seorang pengecut. Dan inilah hukuman bagi seorang pengecut seperti aku. Ketika teman-temanku dari Sevillistas Indonesia bersorak-sorai menyanyikan himne kebanggaan kami di Stadion Si Jalak Harupat Bandung, aku menangis sesenggukan di depan televisi kosan. Andai saja… Andai saja waktu bisa.. Oh, sudahlah.
Momen tanggal 22 Mei itu mengingatkanku pada beberapa peribahasa Madura lainnya mara cacèng nglodu’â komèrè, mara cabhul è jhurâng ajhângoa langngè’, kaluwang terro dhurin, ajâm tokong mènta monteng perib, karena kenyataannya pangara bâdâ, pangaro tadâ’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar