Kaluwang terro
dhurin, peribahasa dari Madura
ini mengingatku pada diriku sendiri. Ada mimpi yang telah bertahun-tahun
lamanya kupendam, namun saat ada kesempatan untuk mewujudkannya aku terpaksa menyia-nyiakannya.
Sevilla FC datang ke
Indonesia pada tanggal 20 Mei 2014 lalu. Mereka datang
dengan 19 pemain, diantaranya Reyes, Trochowski, Coke,
dan Navarro. Jesus Navas memang tidak ada diantara mereka, tetapi kehadiran
beberapa pemain yang sudah kusebutkan beserta pelatih besar Unay Emery mampu
mengisi kekosongannya. Biarlah kepergian Navas ke Manchester City sebagai
bagian dari sejarah. Tak perlu disesali.
Aku masih mencintai
Sevilla dan menganggap diriku sebagai Sevillistas, Sevillistas Indonesia
pastinya. Itu yang kuyakini meskipun aku akui jarang sekali menonton
pertandingan Sevilla di musim 2013/2014 karena jarang ditayangkan di televisi
swasta. Sebenarnya ini bukan suatu alasan, karena masih ada banyak cara untuk
menonton pertandingan mereka. Yah, begitulah.. Ibarat mèghâ’ jhuko’ ta’ buddhâgghâ cellot.
Kedatangan Sevilla FC
ke Indonesia adalah salah satu mimpiku yang menjadi kenyataan. Dulu aku
menganggap itu tidak mungkin terjadi, karena beberapa sponsor pastinya lebih memilih
klub-klub elit Eropa. Ketika pertengahan maret aku
mendapat kabar Sevilla FC akan bertanding dengan Persipasi pada tanggal 25 mei, aku meragukan
kepastiannya. Walaupun begitu aku tetap
menyusun rencanaku menonton pertandingan mereka, termasuk mengecek jadwal dan
harga tiket pesawat dan KA. Aku memberitahu kakakku tentang rencana itu,
sayangnya responnya menyakitkan sekali. Aku tidak boleh pergi ke Bekasi. Aku hanya
bisa mendesah. Kesedihanku semakin menguap ketika sebulan setelahnya seorang teman mengatakan Persipasi digosipkan bubar.
Bulan berganti,
menginjak minggu kedua di bulan Mei kabar kedatangan Sevilla FC berhembus lagi.
Kali ini mereka diberitakan akan bertanding dengan PBR. Aku yang tidak
mendapatkan restu dari orang tua untuk bepergian
ke luar kota, hanya bisa berdoa semoga kali bukan sekedar kabar burung lagi. Alhamdulillah, pada hari rabu (21/5) semua rombongan pemain Sevilla FC benar-benar
menginjakkan kaki di tanah airku tercinta Indonesia.
Seharian aku merasa kacau. Perasaan bahagia atas kedatangan klub yang
kucintai lebur bersama penyesalan karena tidak bisa menonton langsung
pertandingan mereka. Aku menyadari ini adalah kesempatan langka. Mungkin ini
kesempatan satu-satunya yang kumiliki untuk bertemu langsung dengan para
idolaku. Aku mengutuk diriku sendiri. Harusnya aku nekat pergi ke Bandung, tak
peduli dapat ijin atau tidak. Argh. Apa boleh buat. Aku seorang pengecut. Dan inilah
hukuman bagi seorang pengecut seperti aku. Ketika teman-temanku dari
Sevillistas Indonesia bersorak-sorai menyanyikan himne kebanggaan kami di Stadion
Si Jalak Harupat Bandung, aku menangis sesenggukan di depan televisi kosan. Andai
saja… Andai saja waktu bisa.. Oh, sudahlah.
Momen tanggal 22 Mei itu mengingatkanku pada beberapa peribahasa Madura
lainnya mara cacèng nglodu’â
komèrè, mara
cabhul è jhurâng ajhângoa langngè’,
kaluwang terro dhurin, ajâm tokong mènta
monteng perib, karena kenyataannya pangara
bâdâ, pangaro tadâ’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar